Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Saturday, October 11, 2014

tips menghadiri resepsi pernikahan adat Batak

Setelah hampir 2 tahun di Medan, baru sekarang berkesempatan menghadiri resepsi pernikahan adat Batak. Kebetulan, salah satu pekerja di kantor menikah dan menggelar resepsinya pada hari ini. Sebagai pimpinan yang baik, tentunya undangan ybs dipenuhi untuk dihadiri... Ciyee gitu

Untuk pernikahannya sendiri, saya pernah diceritakan salah satu pekerja di kantor (yg Batak tulen) dan membaca timeline @hotradero, untuk adat Batak memang banyak upacara adatnya terutama penghormatan2 terhadap anggota keluarga. Sehingga tidak heran, di acara resepsi pengantin akan lebih banyak bergabung dengan keluarga besarnya.

Bergabung?
Ya bergabung.... 
Pekerja di kantor (marga Sianturi dan Boru Tobing), sering bercerita bagaimana adat istiadat serta resepsi pernikahan Batak yang kalau saya tangkap sangat berbeda dengan adat di Pulau Jawa. Resepsi pernikahan di Jawa, tempat resepsinya menyatu mau keluarga mau undangan umum ya di situ-situ juga. Pada adat Batak, tempat resepsi biasanya terdiri dari dua lantai, lantai satu untuk acara adat dan keluarga, sedangkan lantai dua untuk undangan umum.
"Nanti kalau Bapak datang ke tempat resepsi, langsung ke lantai dua saja Pak, soalnya lantai satu untuk keluarga dan makanan yang dihidangkan juga khas Batak" jelas seorang pekerja sehari sebelum acara resepsi. Oya tentu saja makanan khas Batak yang dimaksud adalah makanan non-muslim (IFYWIM)
"Dan nanti Bapak kalau bisa hadir jam 12.30-an soalnya jam segitu pengantin istirahat dari kegiatan adat sekaligus beramah tamah dengan undangan umum" tambahnya.

Oke sedikit cerita sebelum ke tipsnya, jadi tadi hadir dengan pekerja-pekerja yang lain, yg sayangnya tidak ada yang bersuku Batak untuk membimbing kita di tempat acara... Hehehehe....
Datang ke tempat resepsi sekitar jam 12.45-an, seperti saran dari pekerja yg bersuku Batak (dan kebetulan di undangan tertulis resepsi memang jam 12-selesai). Saat kami datang rupanya masih prosesi adat dan sesuai saran sebelumnya karena prosesi adat khusus keluarga, kami langsung menuju lantai 2. Di lantai 2 betul-betul hanya ada tamu undangan karena keluarga mengikuti prosesi adat. Satu rombongan clingak-clingukbagaimana mau memberikan kado atau 'amplop'.
"Pak ini dikasih ke siapa?" .... lah kok lu tanya gue yang orang Sunda? hahahahaha.
Akhirnya kita menunggu di lantai 2 karena sebelumnya sudah diceritakan bahwa nanti pengantinnya sendiri yang akan ke lantai 2. Menunggu sambil dihibur oleh wedding singer plus dikasih nasi kotakan (kalau cerita marga Sianturi, tergantung kondisi, kadang nasi kotak kadang tamu ambil prasmanan). Dikarenakan lantai 2 ini untuk undangan umum, maka bisa dipastikan bahwa hidangan yang disajikan masuk kategori halal (pun tadi begitu, masakan Minang).
lalu sekitar pukul 13-an, pengantinnya masuk ke ruang lantai 2 dan duduk di pelaminan. Sementara kami sendiri bingung, harus ngapain, masih clingak-clinguk karena tidak ada tamu undangan yang menghampiri pelaminan ataupun seperti yang diceritakan, pengantinnya menghampiri undangan. Hahahaha mulai salting..... Rupanya, di lantai 2 ini selain menghampiri undangan,pengantin juga sekaligus beristirahat dan makan siang (makan siangpun ada prosesi adatnya) sambil beberapa kali ada saudara2 yang menghampiri untuk memberikan semacam petuah dan ucapan selamat. Sementara saya sendiri masih bingung kapan menyelamatinya hahahaha... Ketika pengantin selesai makan siang, tiba-tiba ada anggota keluarga yang meminta pengantin untuk kembali ke lantai 1 untuk kembali melakukan prosesi adat dan bertemu anggota keluarga lainnya.

Dan lagi-lagi rombongan kami kembali kebingungan
"nah lho kapan salamannya? ngapain lagi nih?"
hahahaha
Ya sudah, akhirnya kami memutuskan pulang saja, karena toh pengantin juga melihat kehadiran kami di acara tadi. Tetapi, kadonya dan titipan amplop mau diserahkan kemana? hahaha kebingungan berlanjut, akhirnya ketika melihat orang yang kami rasa keluarga pengantin, kami titipkan saja kadonya sementara amplop kami putuskan untuk diberikan di kantor saja.

Jadi, berikut tips menghadiri undangan resepsi pernikahan adat Batak.
(1) Hadir 15 menit dari jadwal resepsi. Seperti contoh tadi pukul 12.00, maka hadirlah sekitar pukul 12.15-12.30an. Karena pihak pantitia sudah mengatur jadwal tersebut agar pengantin bisa bertemu sapa dengan undangan, terlambat bisa menyebabkan kita tidak dapat bertemu pengantin karena sibuk dgn prosesi adat atau keluarga.
(2) Bagi yang bukan keluarga, sebaiknya langsung menuju lantai 2, ke tempat undangan umum. Awas salah masuk ke tempat keluarga yang di lantai 1. Tapi hati2 juga mana tau nanti kondisinya terbalik, tinggal dilihat saja pria2 berjas dan ber-ulos bisa dipastikan itu keluarga.
(3) Ketika pengantin tidak menghampiri undangan dan terlihat nganggur, sebaiknya langsung hampiri untuk memberikan ucapan selamat ataupun bingkisan/amplop.

Anyway, selamat menempuh hidup baru untuk Arlin Sinaga dan Lona Anggriani Lorensi Br. Hutagalung, semoga bahagia, langgeng dan rukun selalu serta dikaruniai keturunan yang menjadi kebanggaan orang tuany...




Share:

Wednesday, June 11, 2014

hajatan on the street

hari ini pas ngantor salah satu ruas jalan di daerah Helvetia-Medan tertutup 1/3-nya oleh tenda hajatan

heran, perasaan tiap minggu di Medan ini nemu aja salah satu ruas jalan yang ditutup sebagian karena tenda hajatan / acara lainnya. minggu lalu di jalan Karya, 2 minggu yang lalu di daerah Helvetia juga

(gambar ngambil dari sini)


boleh engga sih make jalan umum untuk kepentingan pribadi?
kalau baca dari hukumonline.com, penggunaan jalan umum untuk kepentingan pribadi itu diperbolehkan asalkan telah mendapat izin dari Kapolda + Kapolres + Kapolsek setempat dengan disertai surat rekomendasi dari pemprov+pemkot+camat+lurah setempat

Nah pertanyaannya, sudahkan para penyelenggara hajatan yg menggunakan jalan umum tersebut memenuhi persyaratan seperti itu?... Saya sih ragu
Selain masalah perizinan, sebetulnya lebih ke empati. Apakah sang penyelenggara berempati terhadap pengguna jalan yang lain?
Saya sendiri tidak tahu bagaimana perasaan orang lain ketika perjalanannya terhambat karena hal tersebut, kalau saya sih biasa biasa aja kecuaaliiiiiii kalau si tenda atau acara hajatan yang memakan jalan tersebut menyebabkan kemacetan atau terhambatnya perjalanan saya nahhhh barulah saya mangkel.
Kalau saya sih paling ngedumel, nanyain dalam hati gimana jalan pikiran yang punya hajatan sampe mengakibatkan kemacetan dan mengakibatkan kerugian bagi orang lain (macet bikin terhambat sehingga rugi waktu donk?), tapi kalau orang lain? Anda?

Jangan sampai hajatan nikahan mengharap doa restu tapi yang ada malah umpatan dan sumpah serapah dari orang2 yg merasa perjalanannya terganggu
Ah.. jam pulang kantor, saatnya pulang.. Ya sudahlah, mengalah saja muter ke Yos Sudarso :/
Share:

Monday, April 07, 2014

poster yang membosankan

lama tidak update blog ini...

sudah mulai kehilangan semangat dalam segala hal... perhaps, tampaknya, mungkin...
sudah lebih dari satu tahun, sudah mau pemilu... masih di Medan juga...

ah sudahlah, terima saja nasib dan jalankan.... seperti dalam status BBM/WA "GO FORWARD WITHOUT FEAR". Maju terus....

Sebentar lagi Pemilu, iya Pemilihan Umum dalam rangka memilih wakil rakyat, para anggota legislatif dan perwakilan daerah.
Seperti biasanya, dalam Pemilu selalu diawali dengan yang namanya kampanye, sudah lazimnya setiap musim kampanye datang artinya juga musim menempel poster/billboard para calon anggota legislatif tersebut..

Di Medan?
Sama juga tentunya.... Jangankan musim kampanye, bukan musim kampanye saja banyak yang masang foto2 orang di spanduk/poster/billboard, yang entah siapa mereka itu... Ya ketua ormas lah, ya ketua yayasan anu lah, ya pengurus anu lah...
Wabah selfie dan narsis betul2 sangat terasa di Kota Medan ini, walau kita juga tidak tahu siapa mereka.
Ada yang pasang billboard iklan sekolah tinggi, tapi yang dipasang foto pemimpin yayasannya... Kenapa juga bukan masang foto fasilitas2 sekolahnya biar lebih meyakinkan?
Ada yg pasang billboard iklan toko baju, tapi yg dipasang foto yg punya sama karyawannya... Kenapa juga bukan masang foto2 koleksi bajunya?
Ada yg pasang billboard iklan koran, tapi yang dipasang foto dewan redaksinya sama entah siapa... Kenapa juga bukan masang tema koran dan rubrik2nya?
..... Medan, the city of selfie and narcissism hehehehe

Ah ya.. kembali lagi ke soal poster kampanye tadi. Sejak dahulu hingga sekarang, kenapa para caleg itu tidak pernah memberikan alasan dalam posternya kenapa para pemilih harus memilih ybs? Mayoritas para caleg ini hanya menuliskan nama, asal partai, nomor urut serta daerah pemilihannya, plus kata-kata standar MOHON DOA RESTU DAN DUKUNGANNYA
Hei... Kenapa harus memilih anda? Kenapa harus memberikan dukungan pada anda? Kenapa harus memberi restu pada anda?
Ok.. mungkin tidak semua poster caleg seperti itu. Tapi, sekali lagi, mayoritas, hampir semuanya, seperti itu.. Membosankan dan cenderung bikin saya jengah melihatnya. Apa semua caleg berpikir semua orang ikut orasi kampanyenya? Iya itupun kalau dia orasi, kalau tidak? Bingung kenapa harus milih ybs.
Memang masih ada yg menempel tulisan2 alasan singkat, contohlah JUJUR, MAMPU, BERANI (walaupun tidak semua, karena mayoritas poster membosankan tadi), tapi apakah hanya itu? Lalu mau ngapain caleg ybs kalau terpilih? Apa program kerjanya? .... Adalah yang bawa kata2 puitis dalam billboardnya seperti BEDAKAN MANA KSATRIA MANA PENCURI KUDA, maksudnya apa? Kalau ybs terpilih mau jadi ke Senayan naik kuda pake baju ksatria gitu? Caleg apa Ksatria Meja Bundar?

Dengan terbatasnya billboard atau poster atau spanduk, memang sulit untuk mungkin menulis program kerja karena terbatasnya media tersebut, tapi di sini lah harusnya para caleg tersebut "mikir", gimana caranya alasan kenapa mereka harus dipilih, program kerja mereka, tujuan mereka bisa tersampaikan pada masyarakat.
Mudah saja, para caleg tersebut tentunya punya  handphone atau telepon, kenapa tidak nulis nomor telepon hotline sebagai sarana tanya jawab mereka dengan pemilih?
Gak mau share no.handphone? Ada Internet, manfaatkan dengan membuat website untuk menaruh program kerja dan tujuan caleg ybs. Gak mau keluar duit? Ada blogspot, ada wordpress dll. Ribet? Ada sosmed,caleg bisa menulis program2 mereka di Twitter kek, Facebook kek dll
Sehingga nanti di poster caleg ybs, bisa ditulis nomer telepon kek, email kek, website kek, user sosmed agar konstituen tahu siapa wakil suara mereka kelak, siapa yang akan bertanggung jawab memenuhi harapan konstituen kelak.

Kalau sekarang? "Siapa elu? Mau ngapain lu?"
Share:

Wednesday, August 14, 2013

duar!

"Petasan (juga dikenal sebagai mercon) adalah peledak berupa bubuk yang dikemas dalam beberapa lapis kertas, biasanya bersumbu, digunakan untuk memeriahkan berbagai peristiwa, seperti perayaan tahun baru, perkawinan, dan sebagainya. Benda ini berdaya ledak rendah atau low explosive. Bubuk yang digunakan sebagai isi petasan merupakan bahan peledak kimia yang membuatnya dapat meledak pada kondisi tertentu"
(Wiki)


Umumnya ketika menyambut Ramadhan ataupun Lebaran, menjamurlah pedagang kembang api maupun petasan beserta pembelinya yg nampak asik menyulut petasan, mercon, kembang api dan lain-lain, membuat suasana Ramadhan maupun Lebaran semakin meriah.

Momen tahun ini, petasan kembali membuat berita ketika di Pemalang, sehari menjelang Lebaran sebuah petasan berukuran jumbo (kabarnya mempunyai tinggi hampir 150cm dan berdiameter 20cm) meledak dan menewaskan 1 pemuda dan beberapa pemuda lainnya terluka cukup serius..

150cm? itu petasan apa bom?
Ya, walaupun petasan/mercon/kembang api sudah menjadi bagian dari tradisi dan budaya masyarakat Indonesia, tidak jarang "alat hiburan" tersebut malah berbalik menjadi petaka.
Petasan mau dilarang? Nampaknya sulit, sudah menjadi budaya dan tradisi...

Oleh karena itu, sebaiknya penggunaannya sebaiknya se-hati-hati mungkin dan tentunya tidak mengganggu ketertiban atau kenyamanan orang lain.
Saya jadi teringat ketika Ramadhan dulu, ketika ulama di kampung halaman saya, Alm. KH Zainal Mutaqin, yang seketika itu menghentikan ceramah tarawihnya karena menghardik dan bersama jamaah menghambur keluar dari mesjid utk mengejar orang yang tiba2 membunyikan petasan di sekitar mesjid yang bersuara cukup keras. Contoh petasan seperti itu jelas mengganggu ketertiban dan kenyamanan orang lain, terlebih orang yang sedang beribadah. Sudah jelas haram hukumnya untuk menggunakan petasan seperti itu
“Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41).
Dan sayangnya, tampaknya mayoritas pengguna petasan lebih banyak digunakan untuk mengagetkan orang lain ketimbang untuk menambah kemeriahan suatu acara.

Lalu bagaimana dengan kembang api atau mercon dsb? Apakah tidak seberbahaya petasan?
Tidak! Bagaimanapun permainan tersebut tetap mengandung bahan kimia yang bersifat peledak dan ya, saya sendiri pun pernah mengalaminya.
Tahu mercon air mancur?


(gambar dari http://cindypricilla.blogspot.com)
Entah apa nama lainnya, yang jelas saya sering menyebutnya dengan sebutan air mancur.
Sekilas air mancur mempunyai fisik seperti petasan, bersumbu, namun tidak meledak dan hanya menyemburkan percikan api seperti kembang api berbentuk air mancur.
Tidak meledak? Tangan kanan saya saksinya, ketika saya berumur belasan tahun dan bermain air mancur dengan cara dipegang di tangan (karena tahu tidak meledak) tiba2 ketika percikan apinya habis, si air mancur tiba2 meledak. Alhamdulillah, Allah masih mengizinkan saya memiliki telapak tangan kanan, telapak tangan kanan saya melepuh dan hampir tidak bisa digunakan selama 2 minggu.
Tidak meledak? Boleh tanyakan sepupu2 saya yang mungkin masih ingat kejadian ketika lebaran di Kuningan dulu. Kejadiannya sama dan yang ini air mancurnya lebih besar dengan tinggi hampir 30cm-an (yang saya pegang dan meledak dulu mungkin cuman 10cm-an). Si air mancur tiba-tiba meledak dengan ledakan lebih keras ketimbang yang saya pegang. Alhamdulillah tidak ada satupun di keluarga kami yang ketika air mancur dinyalakan dalam kondisi dipegang oleh tangan. Entah apa jadinya kalau sambil dipegang.
Walhasil, saya sendiri sedikit trauma dengan yang namanya air mancur itu.

Apapun permainan itu, entah petasan entah kembang api entah mercon, tetaplah digunakan dengan hati-hati serta tidak mengganggu orang lain.
Share:

Friday, August 06, 2010

ibukota

belakangan ini sedang ramai 2 wacana... satu redenominasi rupiah yang kedua soal perpindahan ibukota Republik Indonesia

seperti yang diketahui Jakarta semakin hari semakin ruwet, sebagai pusat pemerintahan dan pusat bisnis-ekonomi negara ini, Jakarta semakin dipadati oleh penduduk2 (termasuk saya ehehehehe) imbasnya semakin banyak masalah tumplek di Jakarta ini, salah satunya ya macet...
tentang kepindahan Ibukota, sejak jaman dulu wacana kepindahan ibukota sudah sering dikemukakan, namun yang paling serius tampaknya justru ketika negeri ini masih dijajah dan ketika masa2 perjuangan (itupun sementara saja) yang lainnya tampaknya hanya sekedar wacana saja ...
semua orang juga tau, bahwa ketika zaman pemerintahan Hindia Belanda, pemerintah melalui pemimpinnya langsung Gubernur Jendral JP van Limburg Stirum berniat memindahkan pusat pemerintahan dari Batavia ke Bandung dikarenakan berbagai macam alasan (kalau tidak salah, salah satunya karena letak geologis Bandung yg dikelilingi gunung sbg benteng pertahanan alami). Niatan ini ditindaklanjuti dengan langkah2 serius dengan mendesain ulang tata letak Bandung (seperti letak pemukiman, letak pusat niaga dll), mendirikan berbagai macam kantor pusat pemerintahan/bisnis (seperti kantor pusat Kereta Api, kantor pusat Dephan dll) dan rencana2 laiinnya (seperti mendirikan istana peristirahatan Gubernur Jendral yg akan jauh lebih mentereng dari Istana Merdeka atau Istana Bogor di daerah Tamansari).. sayangnya, karena krisis ekonomi yang melanda Eropa membuat Belanda menunda rencana ini, terlebih lagi pergantian kekuasaan ke Jepang tahun 1940-an membuat rencana ini batal sama sekali.
kemudian pada masa pemerintahan Orde Lama, ruapanya Bung Karno sebagai pimpinan negara saat itu berkeinginan untuk memindahkan pusat pemerintahan ke Kalimantan (entah Palangkaraya, Pontianak atau Banjarmasin)... sayangnya keinginan ini hanya bersifat wacana yang urung terealisasi
berganti pemerintahan Orde baru.. kabarnya Pak Harto mempersiapkan Jonggol, suatu daerah di Bogor (yg kalau saya bilang sih sebetulnya masih seperlemparan batu dari Jakarta), sebagai ibukota dan pusat pemerintahan baru menggantikan Jakarta seperti Putrajaya-nya Malaysia ... lagi2 ini pun hanya sekedar niat dan wacana
dan kini bergulir lagi wacana itu ...

buat saya pribadi, perpindahan ibukota atau pusat pemerintahan tampaknya akan sulit dilaksanakan.. salah satu alasannya tentu saja karena biaya, jangankan pindah ibukota nyelesein monorail atau nambah armada busway aja dananya ga turun2.. mangkanya kalau berpindah saya lebih suka dengan pilihan ketika jaman Pa Harto, cukup pusat pemerintahannya saja, itupun ke daerah yang tidak terlalu jauh..

apakah perpindahan ibukota akan terealisasi di pemerintahan sekarang? kalau pun berpindah pusat pemerintahan akankah menghilangkan atau mengurangi ruwetnya Jakarta? macetnya Jakarta? .. wallahualam

karena saat inipun saya sedang bimbang apakah akan pindah keluar kota karena hasil assesmentnya lulus?...
lagi-lagi.. ngarep... tapi semoga lulus *grin*
Share:

Tuesday, June 16, 2009

surat keterangan sehat ....

pernah ke Puskesmas?

yaaaa klo belum pernah cek atau konsultasi pasti pernah liat kan yg namanya PUSKESMAS?
keberadaan Puskesmas mungkin dulu sering disepelekan sbg tempat pemeliharaan kesehatan dan pengobatan dengan harga miring, sehingga identik dgn pengobatan kelas bawah, belum lagi kalo ngeliat bangunannya yang yaaa rada2 kurang terawat ...
... itu mungkin dulu, sekarang liat Puskesmas yang ada di Kircon Bandung ato Palmerah Jakarta, uwoooow udah mirip Rumah Sakit aja, bahkan sampe sedia IGD 24 Jam-nya segala, tempatnya bersih dengan bangunan yang mentereng, keren! ... ga heran kalo dulu Puskesmas kebanyakan orang2 dateng pake angkot, sepeda dll, sekarang parkiran Puskesmas sudah mulai terisi mobil2 pasien atau pengunjung ......
aldi sendiri udah beberapa kali meriksain diri ke Puskesmas, bahkan buat berobat waktu sakit gigi juga pernah (akibat iming2 istri yang bilang murah dan dokternya cantik, emang cantik sih, tapi giliran diperiksa si dokter malah pergi dan diganti dokter cowok... grmbll)
semoga Pemerintah yang baru nanti memperhatikan dan terus membesarkan Puskesmas sebagai salah satu sarana layanan kesehatan yang terjangkau oleh semua lapisan masyarakat ...

bukan itu sih yg mau dibahas ....
pernah bikin Surat Keterangan Sehat?
kalo pernah, biasanya di mana?
udah pernah bikin di Puskesmas? ............. kalo di sana, biasanya cukup daftar, bayar 5000, ditanya nama, tinggi badan, berat dan umur, petugas ngisiin data2 kita di sebuah formulir, formulirnya dikasiin ke dokter, dokter tandatangan formulir tsb, formulir tsb dikasiin ke kita deh sama si petugas...
dan formulir tsb lah Surat Keterangan Sehat-nya
simple kan?
.......... tapi kok ga diperiksa ya? ga ada konsultasi dulu sama dokternya .. gimana kalo kita ngasi data2 yg salah ttg tinggi badan, berat dan umur? kok ga diperiksa? gimana klo orang sakit bikin keterangan sehat dan lolos2 aja?
udah beberapa kali ke Puskesmas dan terakhir nganterin istri kemaren buat bikin surat tsb, prosedurnya selaluuu aja sama
padahal waktu bikin di salah satu klinik dan lab, ada konsultasi dokter dulu ... tinggi badan dan berat pun susternya yg meriksa, bukan kita yg ngisiin ...

anyway, surat keterangan sehat itu biasanya diisi atas penilaian apa aja ya?
mudah2an sih pembuatan surat keterangan sehat ga secluscles gitu, agar pelayanan Puskesmas juga semakin maju .....
Share:

Thursday, May 07, 2009

audisi pengamen



tadi pagi ngeliat berita yg cukup menarik di Liputan 6 ..
beritanya tentang cara unik Pemkot New York untuk menertibkan para pengamen di Grand Central NY (stasiun2 SUBWAY NY) melalui sebuah program audisi, para pengamen yg lolos diberi izin untuk bisa mengamen di Grand Central selama setahun penuh ...
subway idol nih ceritanya ..

kira2 bisa ga ya pemerintah/pemda/pemkot di sini mengikuti cara yg sama seperti yang dilakukan di NY? pemerintah ngadain audisi misalnya untuk pengamen heuseus busway? pengamen heuseus metromini? pengamen heuseus kawasan makan?
.... hahhh, mimpi kali yee...

seperti yg pernah aldi tulis di status facebook, pengamen di Indonesia itu 10%-nya entertaining 90%-nya annoying.. dari 10 orang pengamen paling cuman 1 orang yg bener2 menghibur.. sisanya? ya gitulah ...
bandingkan dengan gambar2 atau video2 yg suka ditayangin di TV tentang pengamen2 di luar negeri .. keren banged, ada yg nyanyi dengan kualitas John Mayer, ada yg pantomin, ada yg nampilin alat musik daerah tapi dengan kostum daerah pulak ... layak diacungin jempol!

di sini? modal tepuk tangan dan suara yg bikin pusing pun udah cukup... itulah kenapa aldi bilang 90%-nya annoying ... kelakuannya pun aneh2, kita sedang asyik2 ngobrol tanpa babibu langsung nyanyi, lha obrolan pun jadi terganggu ato kasus laen ngamen cuman nyanyiin reff-nya doank udah minta duit, klo ga dikasi nyanyi tuh reff doank plus kata2 "permisi om" heeelhhhoooo?!?

di antara 10% yg entertaining itu mungkin termasuk di antaranya ...
..pemuda2 yg suka nyanyi akapelaan di Cilaki Bandung, klo udah bawain BoyzIIMen kerennn banged
..anak2 cewe ABG yg suka nyanyi di metromini 640, peralatannya lengkap ada gitar kecil, kecrekan, perkusi dari pipa PVC, berbeda dgn pengamen metromini yg ini hobinya bawain lagu2 daerah Indonesia Timur dan lagu2 latin ... keren!
..pengamen2 di Stasiun Bogor klo lagi nunggu kereta berangkat, alat2nya lengkap gitar akustik sampe gitar listrik, bas betot, vokal yg saling melengkapi dll
mau menambahkan?
Share: