Showing posts with label hobi. Show all posts
Showing posts with label hobi. Show all posts

Saturday, April 06, 2013

komik lokal

tadinya mau mencari makan siang, keluar kost..
berhubung hujan deras turun di Medan, saya jadi urung keluar, alih2 malah nyeduh mie cup (pincapem bergaya hidup mahasiswa)
sambil nyeruput mie cup, saya menyaksikan tayangan menarik di MetroTV tentang eksistensi komik lokal ya.. komik lokal.. kapan terakhir kali anda membeli atau membaca komik lokal? kalo membaca, saya sendiri mungkin masih sering, tapi mungkin hanya yang berupa komik strip seperti kolamkomik-nya Pandji, chickenstrip-nya sepupu saya, Si Juki, Panji Koming, Beny-Mice (btw, Beny-Mice kok ga pernah rujuk lagi? Beny tanpa Mice rasanya ada yang kurang).. untuk yg tipe berseri, hmmmm saya sudah lupa... ya, belum ada yang menarik perhatian saya lagi untuk mwembaca komikyg berupa serial, selain belum ada yg menarik perhatian, rasa2nya harganya lebih mahal ketimbang komik impor...
saya ingat ketika jaman SD-SMP, antusiasme saya terhadap komik lokal sama besarnya dengan komik impor... selain saya penyuka komik, saya juga mempunyai ayah yg suka membaca komik pula.. dahulu, tidak jarang setiap hari minggu pagi, kami (saya-adik saya-ayah saya) menuju Banceuy untuk berburu komik dan menikmati nasi gulenya di Bursa Koran Cikapundung ah ya, di masa itu, rasanya harga komik lokal jauh lebih murah ketimbang komik impor.. sehingga komik lokal bisa menjadi alternatif bacaan, walau boleh dibilang mayoritas komik lokal yang saya baca sebetulnya saya sewa dari taman bacaan saya mencoba mengingat kembali, komik lokal yang dulu sempat saya baca  

Komik Wayang RA Kosasih
RA Kosasih adalah salah seorang yang mempengaruhi kecintaan saya terhadap dunia pewayangan (selain Asep Sunandar Sunarya, maestro dalang wayang golek, Giri Harja III). Komik wayang beliau sangatlah lengkap, dari permulaan Ramayanan hingga penutup Mahabarata, dengan gaya bertutur cerita yang enak serta gambar yang tegas membuat saya sangat menikmati komik2 karya beliau ini... Salah satu koleksi beliau yang saya miliki dan menjadi salah satu favorit saya adalah tentang Baju Antakesuma, baju yang selalu melekat pada tokoh wayang favorit saya, Gatot Kaca.. sedikit bercerita boleh?.. kisahnya tentang Batara Guru yang mendapat ide untuk mencegah Bratayudha yaitu dengan memberikan tumbal pada Kawah Candradhimuka berupa Baju Antakesuma, Batara Guru meminta Batara Narada untuk menjalankan ritual tsb, Batara Narada meminjam tangan Resi Dorna untuk menyampaikan hal tsb, Resi Dorna melalui murid tersayangnya Arjuna meminta Baju Antakusuma. Gatotkaca yg sangat menghormati pamannya tidak kuasa menolak permintaan tersebut walau tahu beresiko kematian karena dicabutnya Antakusuma dari badannya.. Singkat cerita, Arjuna menyerahkan baju tsb. Sementara di Pringgadani, Gatotkaca yg sedang sekarat tiba2 membelah diri menjadi 2 ksatria, R. Bajing Kiri dan R. Tapak Nanggala, yg masing2 memiliki 1/2 kesaktian Gatotkaca. Sementara R. Bajing Kiri berusaha merebut kembali Antakusuma, R. Tapak Nanggala bersama Punakawan yg emosi mendengar permintaan Batara Guru, berangkat menuju kahyangan untuk mengobrak abrik Suryalaya
seru! apalagi adegan mengobrak abrik kahyangan oleh punakawan (mantan dewa, Semar/Batara Ismaya mengobrak abrik bekas rumahnya sendiri)  

Si Tolol
 di saat orang lain terkesima dengan komik Si Buta dari Gua Hantu, saya jauh lebih menyukai Si Tolol. Sebuah antitesa pendekar karya Djair.. Di mana pendekar yang ditampilkan jauh dari kata gagah seperti Badra Mandrawata atau Panji Tengkorak, atau tampan seperti Mandala-Siluman Sungai Ular.. Bahkan seperti namanya, Si Tolol ini justru kadangkala tololnya minta ampun karena dengan fisik seperti anak2, kelakuannya pun kekanak2an.. Namun dengan keajaibannya, Si Tolol sebetulnya mempunyai kebijaksanaan tinggi serta ilmu kesaktian yang luar biasa (gara2 menulis postingan ini, saya sendiri baru tahu kalau Si Tolol ini berguru kepada Jaka Sembung dan Jaka Sembung sendiri merupakan karya Djair). Si Tolol sebetulnya merupakan bangsawan tanah Pasundan bernama Raden Palasara,namun karena segala macam kekurangannya Palasara dikucilkan oleh keluarganya. Justru karena dikucilkan tsb Si Tolol diberikan jalan untuk bisa berguru kepada Jaka Sembung (saya belum pernah baca seri2 awalnya, yang saya baca pas seri tengah2 sampe penutupnya/Putri Ular).
Kisah Si Tolol sendiri dilanjutkan oleh muridnya, Jaka Geledek, yang juga sempat saya ikuti serinya... Jaka Geledek, merupakan keturunan bangsawan Minang (kalo ga salah, mohon dikoreksi), di mana ibunya pernah terpengaruh oleh kaum Siluman Ular. Si Tolol menyelamatkan Jaka Geledek ketika hendak dikorbankan oleh Siluman Ular, sayang ketika diselamatkan Jaka Geledek terlanjur terbujur kaku, dalam kesedihannya karena baru kali ini Si Tolol gagal menyelematkan seseorang, Si Tolol berdoa agar nyawa anak tsb bisa diselamatkan, tiba2 petir menyambar tubuh Jaka Geledek. Karena petir itulah, Jaka Geledek mempunyai kekuatan petir dalam setiap pukulannya, Si Tolol pun mewariskan ilmu2nya pada Jaka Geledek.
Ohya, Djair sendiri sempat membuat komik tentang perjuangan 3 komik pendekar legendaris berjuang melawan kesewenang2an VOC. Di komik ini pun mewakili seluruh unsur daerah dan agama bersatu melawan penjajahan.  

Sawung Kampret
ah, Dwi Koen, salah satu komikus favorit saya karena karya konyol tapi dalemnya (Panji Koming) membuat komik berseri, Sawung Kampret.
Berlatar belakang di masa penjajahan VOC, di masa pemerintahan JP Coen. Sawung Kampret adalah anak dari seorang pendekar di Jawa Timur dan keturunan dari Panji Koming-Nini Woro Ciblon dan Pailul-Dyah Gembil.. Ayah Sawung Kampret sendiri kemudian terbunuh oleh kawanan penjahat, ayahnya sebelum wafat berpesan agar Sawung berguru kepada sahabat ayahnya, seorang pendekar nyentrik di tanah Pasundan. Di tempat Sawung berguru, Sawung mempunyai saudara seperguruan Na'ip. Kemudian hari, Sawung dan Na'ip berkelana untuk mencari pengalaman baru (dari belajar ilmu pengobatan ke Tang Ping San dan mempelajari ilmu pengetahuan dan bahasa ke Dr Van Komplen) . Dalam pengelanaannya Sawung dan Na'ip kerapkali bentrok dengan VOC sehingga membuat pusing JP Coen. Sawung sendiri mempunyai seorang secret admirer, seorang noni Belanda bernama Marietje Van Der Bloemkol (keponakan Van Komplen) yang sayangnya dianggap cintanya bertepuk sebelah tangan karena hanya dianggap adik oleh Sawung dan dipanggil dengan sebutan Dul!
Sawung Kampret sendiri sempat dijadikan sinetron dengan Gito Gilas sebagai Sawung dan Taufik Savalas (Alm) sebagai Na'ip Namun sayang komiknya sendiri tidak terlalu panjang.. padahal komiknya khas Dwi Koen, nyerempet cerita keseharian republik tercinta kita ini

 salah satu yg membantu tersebarnya komik lokal dahulu adalah karena keberadaan TB atau Taman Bacaan.. tentu yang tinggal di Bandung ingat dengan TB.Hendra di Jalan Sabang (masih ada engga ya?).. saya sendiri kalo engga kesana biasanya ke TB yg kebetulan ada di dekat rumah
Share:

Tuesday, June 14, 2011

Antareja Antasena: Jalan Kematian Para Ksatria

hehehe sekian lama engga baca buku (lebih sering ngomik) sejak beli buku2 Perang Dunia-II, sekarang beli buku lagi.. tentang budaya lokal bangsa, wayang.. yeah, saya suka sekali dengan wayang..

kesukaan saya terhadap wayang tumbuh sejak jaman masih SD, ketika Pak Asep Sunandar Sunarya (dalang wayang golek terfavorit saya) dan rombongan Giri Harja III-nya kerap tampil di TVRI Bandung.. saya akui, pertama kali suka wayang karena kepandaian Pak Asep membawakan kisah wayang yg dibumbui adegan2 kocak punakawan serta kelincahan tangan Pak Asep dalam menggerakkan boneka2 kayu tersebut.. saya ingat, bahkan ketika sudah sampai adegan konyol punakawan (Semar, Astrajingga, Dewala, Gareng), saya bisa sampai terpingkal2 dibuatnya
terlebih lagi ayah saya dulunya gemar membaca komik2 RA Kosasih (yg akhirnya menurun ke saya juga), sehingga dulu saya kerap diceritakan kisah2 wayang

sekarang.. selain menyaksikan pagelaran wayang golek dan membaca komik2 RA Kosasih, saya jadi tertarik untuk mebaca novel2 wayang karangan Pitoyo Amrih dan akhirnya dipesanlah 2 novel beliau tsb, yg pertama The Darkside of Gatotkaca dan yg kedua ANTAREJA ANTASENA, Jalan Kematian Para Ksatria



kisah tentang saudara seayah beda ibu sang ksatria Pringgodani, Gatotkaca.. Antareja dan Antasena, tokoh pewayangan yg hanya muncul di wayang Indonesia (jadi kedua tokoh ini adalah tokoh wayang yg Indonesia banget! :D)..
Antareja, hasil pernikahan Bimasena dengan Dewi Nagagini, putri tunggal Hyang Antaboga, penguasa alam bawah tanah pewayangan..
Antasena, hasil pernikahan Bimasena dengan Dewi Urang Ayu, putri Batara Baruna, penguasa samudera
dua tokoh yang diceritakan sangat sakti ini dihadapkan pada takdir keinginan dewa2 Jongringsaloka agar tidak ikut dalam perang Baratayudha karena dikhawatirkan bisa menewaskan lawan2nya hanya dalam hitungan detik, sehingga menurut para dewat hal tsb sangatlah tidak adil..

tapi entahlah, saya pikir awalnya buku ini akan fokus menceritakan kisah Antareja dan Antasena, namun kok makin melebar ke kisah kresna (bahkan rasa2nya kresna lebih byk diceritakan ketimbang judul bukunya), Samba dll..
tapi tetap, novel ini cukup menarik mengisahkan kejadian2 di Kurusetra pra-Baratayudha.. siapa sangka, walo sodara seayah, Gatotkaca dan Antareja pernah berselisih paham dan bertarung hingga 2 hari 2 malam.. siapa sangka, Kresna sang titisan Batara Wisnu mengakui kesaktian Antasena melebihi dirinya..

di novel ini, saya suka sekali dengan tokoh Raden Antasena.. yg dalam novel diceritakan bisa merubah dunia wayang semudah membalikkan kedua tangannya.. dengan kesaktiannya yg luar biasa, Antasena adalah tokoh yg sangat santai, memandang hidup dengan sangat ringan, sikap bebas bahkan nyaris slengean.. suatu tokoh yg jarang ada di dunia wayang.. dan ketika mengetahui takdir kematiannya yg diinginkan oleh para dewata, Antasena pun menerima dgn lapang dada dan santai sekali, padahal kalau mau, mungkin Antasena bisa mengobrakabrik kahyangan serta mengajukan protes

wayang dengan sejuta kisahnya memang selalu menarik untuk selalu disimak..
kapan ya ada pagelaran live lagi dari Giri Harja-III? (terakhir nonton ketika ultah Persib)
Share: