KNO  
Tuesday, July 30, 2013 @ 6:00 PM


sebagai salah satu penggunanya di hari kedua KNO beroperasi, mari sedikit bercerita tentang bandara terbesar kedua di Indonesia (dan sering diklaim paling canggih)

KNO, merupakan kode IATA dari Bandara Internasional Kualanamu. KNO dibangun untuk menggantikan Bandara Internasional Polonia, yang telah hampir 80 tahun beroperasi, karena pergerakan penumpang di bandara tersebut semakin besar. Polonia didesain hanya untuk menampung pergerakan 900 ribu penumpang/tahun, sedangkan saat ini di Medan, pergerakan penumpang sudah mencapai angka 7,9 juta penumpang/tahun. Oleh karena itu dibangunlah Bandara Kualanamu ini yang mampu melayani pergerakan penumpang hingga 8,1juta/tahunnya.

Dengan total area 1365Ha dan luas terminal 118.930m2, KNO mempunyai runway berukuran 3.750x60m dengan panjang taxi way hampir 5.750m dan luas apron 200.000m2 sanggup melayani pergerakan 10.000 pesawat pertahunnya dan diorientasikan menjadi hub regional Asia. KNO mempunyai berbagai macam fasilitas seperti Baggage Handling System (memudahkan penumpang sehingga tidak perlu ada pemeriksaan sebelum check-in), Common Use Passanger Processing System (sistem yang menginzinkan maskapai untuk beroperasi di counter manapun), E-Gate, Border Control Management System (sistem yang mencegah masuknya WNA yang tercantum dalam daftar cekal), moda transportasi darat (bus, taxi dan Railink) dll.

tulisan2 di atas, saya salin dari flyer yang dibagikan oleh Duta Bandara di Kualanamu
ya, menginjak hari keduanya beroperasi (KNO beroperasi pertama kali tanggal 25 Juli 2013), saya menjadi salah satu penumpang yang hendak berangkat dari Kualanamu ke Soekarno-Hatta, KNO-CGK.
Banyak memang yang menyangsikan kelancaran operasional bandara ini dikarenakan terkesan terburu2 dan dipaksakan, walau akhirnya hal itu ditepis oleh berbagai pihak termasuk menteri BUMN sebagai atasan perusahaan pengelola bandara. Yang menyangsikan rata2 karena melihat ketidaksiapan infrastruktur pendukung bandara (walau di beberapa forum saya lihat ada juga yang menulis ketidaksaiapan faktor aviasinya, wallahualam), hal yang paling besar tentunya masalah transportasi, di mana sebelumnya masyarakat dimanjakan dengan Polonia yang terletak di tengah kota, kini berpindah ke Kab.Deli Serdang, bergeser puluhan kilometer.

Kenyataannya? ya, menjadi kendala...

saya berangkat dari kantor tepat pukul 16.30 ketika jam absen pulang (tenggo). Beberapa bulan sebelumnya ketika bandara belum dibuka, waktu tempuh dari kantor ke Bandara hanya sekitar 50 menit saja, tanggal 26 kemarin? 1,5 jam. Bukan waktu yang buruk sebetulnya, tapi ketika pengantar saya pulang, hampir 4 jam ybs baru sampai di Medan. Tentunya bisa dibayangkan bagaimana jika 4 jam itu terjadi pada saat keberangkatan, mules tentunya..
Jalan ke bandara dari Tj.Morawa pun bisa dibilang tidak terlalu mulus, karena ketika kita kagum dengan jalan yang lebar dan terpisah jalur, jalan tersebut tiba2 menyempit dan menjadi 2 jalur saja.
Pengantar saya, yg kebetulan AO di kantor, bilang sebetulnya penyempitan jalur itu tidak terlalu menjadi masalah, sepanjang mengantarkan saya dan ketika dia pulang jalanan terhitung lancar, masalah mungkin akan timbul kalau tiba2 ada kendaraan besar yang mogok di jalur yang sempit, mau kemana lagi nanti?.. Masalah lalu lintas sehingga macet parah, justru terjadi di daerah Simpang Kayu Besar karena adanya perbaikan Jembatan Sei Belumai. Perbaikan tersebut mengakibatkan adanya sistem buka tutup jalan arah yang berlawanan.
Jalur yang menyempit tersebut terkendala pembebasan lahan, tentu saja, ketika kemarin saya melintas pun sudah banyak spanduk2 dari warga sekitar terkait ganti rugi.
Sedangkan untuk perbaikan Jembatan juga ditargetkan akhir Juli ini selesai, wallahualam, semoga saja benar bisa segera selesai karena saya yakin tanggal 2 Agustus esok lah puncaknya arus mudik ke Kualanamu.


Tampaknya banyak warga sekitar yang penasaran seperti apa jadinya bandara kebanggaan propinsi Sumatera Utara ini, banyak warga yang memadati pintu gerbang bandara atau hanya sekedar nongkrong di flyover-rel sebelum bandara. Jalan menuju bandara kemarin betul-betul padat, baik oleh warga yang hendak menuju bandara, atau hanya sekedar nongkrong, tukang dagang bahkan kereta odong-odong pun ada di jalan menuju bandara. Bandara mentereng yang untuk cek-in tanpa pemeriksaan tentunya menjadi tempat rekreasi tersendiri.
Semoga hal inipun bisa segera ditertibkan.


kereta yang diharapkan sebagai solusi ketepatan waktu pun tampaknya masih belum bisa diharapkan terlalu banyak. Railink, perusahaan patungan Angkasa Pura 2 dan PT.KAI, yang melayani perjalanan Medan-Kualanamu pada kedatangan saya kemarin mengalami keterlambatan, dari jadwal yang seharusnya 20.25 ternyata baru diberangkatkan ke Medan pukul 20.55-an. Untungnya itu kedatangan, bisa dibayangkan bagaimana was-wasnya penumpang yang hendak berangkat menggunakan kereta api dan mengalami keberangkatan? (dalam sebuah broadcast BBM bahkan katanya pernah mengalami keterlambatan hingga 3 jam, wallahualam). Belum lagi stasiun di Medan atau di Kualanamu yang masih dalam tahap renovasi sehingga terasa sangat berdebu sekali dan tampak kurang rapi. Walau begitu, tampaknya AP2 dan KAI terus berbenah kekurangan tersebut, belum lagi rencana kedatangan kereta khusus bandara dan akan diresmikannya oleh Presiden SBY sendiri.


cukup sudah tentang kendalanya.. semoga hal tersebut bisa segera diperbaiki mengingat mulai minggu ini dimulainya arus mudik (jalan ke KNO sendiri merupakan jalur mudik ke kota2 lain di Sumatera Utara)...

lalu bagaimana dengan bandaranya sendiri?
CANTIK! ya, saya kagum dengan tampilan bandaranya, walau masih dalam tahap penyelesaian dan renovasi namun sudah sangat terasa kecantikan, kemegahan dan kecanggihannya. Bahkan sebagai warga Jawa Barat, saya sempet men-twit rasa iri saya kapan Jawa Barat punya bandara megah seperti ini?

Secara umum, Kualanamu terdiri atas 3 lantai, lantai pertama untuk area kedatangan, lantai kedua (tampaknya) untuk area komersil (toko, resto dll) sedangkan lantai ketiga untuk area keberangkatan. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, dengan sistem CUPPS dan BHS ini memungkinkan siapapun bisa masuk ke counter area (persis Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta). Di Kualanamu tidak terlihat loket pembayaran airport tax, airport tax dibayarkan langsung di counter check-in dan tercetak dalam boarding pass berbentuk barcode. Barcode inilah yang digunakan penumpang untuk di-tap-kan di E-gate boarding room.

Dalam boarding room, seingat saya ada 12 gate, gate2 awal diperuntukkan penerbangan internasional sedangkan mayoritas untuk penerbangan domestik. Hal ini menjadikan bandara ini berbentuk huruf T, I nya untuk 3 lantai tadi dan - nya untuk boarding room sejumlah 12 gate tadi.
Kemegahan bandara ini juga terasa ketika  pesawat hendak lepas landas, rasanya lama sekali pesawat berjalan di taxi way :), dalam hati saya berujar sambil bercanda, apron-nya luas, taxiwaynya panjang, runway-nya jangan2 ke Polonia lagi..     dan ya, dari runway kita bisa melihat betapa luasnya apron, taxi way serta bandaranya sendiri. Runwaynya sendiri bahkan terlihat lebar dari dalam kabin pesawat. Oya ketika pesawat berjalan di taxi way, saya juga sempat melihat kendaraan pemadam kebanggaan bandara ini (yang sering2 disebut transformers), memang terlihat keren.


Fasilitas umum di bandara ini juga belum terlalu banyak, wajar memang karena masih proses finishing. Jumlah restoran masih bisa dihitung dengan jari, penunjuk arah masih simpang siur, mushola yang terbatas (dan tempat wudhu yang menyulitkan) dan masih banyak hal lain yang perlu dibenahi. Untuk transaksi keuangan, tenang saja di bandara ini sudah beroperasi beberapa ATM dan bahkan sudah ada bank yang beroperasi di sini... Salah satunya tentu bank yang selalu melayani dengan setulus hati :)


Sebagai salah satu gerbang Sumatera Utara, Kualanamu tentunya akan selalu berbenah menjadi lebih baik agar menjadi salah satu kebanggaan negeri ini.. Horas!

Labels:

[ 0 COMMENT(s) SO FAR]